Marhaban Ya Ramadhan, Kami Menyambutmu Dan Siap Mendapatkan Kemulian Dan Kebaikan

6 Amalan yang Semoga Konsisten Dilakukan Meski Ramadhan Usai

Seringnya kita dengar ungkapan “Marhaban Ya Ramadhan” menjelang datangnya bulan Ramadhan, baik itu berupa seruan atau tulisan. Biasanya ucapan tersebut dimaksudkan untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang memang sudah ditunggu tunggu oleh umat Islam, tidak hanya di Indonesia saja tetapi juga di seluruh dunia. 

Kemungkinannya kamu pernah bertanya : Kenapa digunakan ungkapan “Marhaban Ya Ramadhan” bukan “Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan?” Padahal keduanya memiliki arti yang sama yaitu “Selamat Datang?”. 

Kata Marhaban dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu, sederhananya Marhaban ini berarti “Selamat Datang”. Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Lentera Hati”, dalam menyambut bulan Ramadhan para ulama menggunakan kata “Marhaban” bukan kata “Ahlan Wa Sahlan” karena adanya perbedaan arti. 

Ahlan diambil dari kata ahl yang berarti “keluarga”, sedangkan Sahlan diambil dari kata sahl yang berarti “mudah”, sahl juga bisa diartikan “Dataran Rendah” karena mudah dilalui para pejalan kaki, dan tidak seperti tanjakan yang tinggi. Selain itu juga dalam ungkapan Ahlan wa sahlan yang juga memiliki arti “Selamat Datang” tersirat sebuah ungkapan yaitu (kamu berada di tengah tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang sangat mudah. 

Sedangkan kata Marhaban diambil dari kata rahb yang berarti “Luas atau Lapang”, sehingga Marhaban menggambarkan akan disambut dan diterimanya para tamu yang datang dengan lapang dada, penuh kegemberiaan, dan juga disiapkan baginya ruangan luas untuk bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Jadi arti Marhaban Ya Ramadhan itu adalah “Selamat datang Ramadhan”. 

Kedatangan Ramadhan tersebut akan disambut dengan penuh kegembiraan dan juga sudah disiapkan untuknya tempat yang luas supaya dirinya bebas bergerak melakukan apa saja, yang berkaitan dengan upaya mengasah dan mengasuh jiwa umat muslim. 

Marhaban Ya Ramadhan, kami menyambutmu dan siap melakukan apa saja supaya bisa mendapatkan kemuliaan dan kebaikan di bulan suci ini. 

Marhaban Ya Ramadhan, selamat datang tamu agung yang jika dianalogikan, Ramadhan itu seperti tamu agung yang berkunjung dari satu tempat ke tempat lainnya, dimana dirinya tidak akan menemui setiap orang di lokasi tersebut meski setiap orang disana mendambakannya. 

Sedangkan Ramadhan diambil dari akar kata yang memiliki arti “membakar” atau “mengasah”. Diberinama yang seperti itu karena pada bulan ini akan dipupusnya dosa dosa manusia, akan dibakar habis, karena kesadaran dan amal salehnya. Datangnya bulan Ramadhan juga diibaratkan seperti tanah subur yang siap ditaburi dengan benih benih kebajikan. Semua orang dipersilahkan untuk ikut menaburinya, lalu saat waktu menuai tiba bisa didapatkannya hasil sesuai dengan apa yang ditanam. 

Marhaban, kami sangat gembira dengan kedatanganmu, karena seperti sabda Rasulullah SAW : “Seandainya umatku mengetahui (semua) keistimewaan Ramadhan, niscaya mereka mengharap supaya semua bulan menjadi Ramadhan.” Sebagai contoh adanya qadr di bulan Ramadhan yang merupakan malam penentu yang akan menemui setiap orang yang sudah mempersiapkan dirinya dengan sangat baik sejak dini pada waktu yang sudah ditentukan yaitu 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. 

Kebaikan dan kemuliaan di malam Laital Al-Qadr itu hanya bisa didapat oleh mereka para pejuang tangguh yang benar benar khusyuk beribadah di siang hari dan menghidupkan 10 malam terakhir dengan beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Intinya Marhaban Ya Ramadhan berarti kami menyambutmu dan siap melakukan apa saja untuk mendapatkan kemuliaan dan kebaikan yang sudah dijanjikan. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *